7 Unsur-Unsur Cerpen dan Penjelasannya Lengkap

7 Unsur-Unsur Cerpen dan Penjelasannya Lengkap

  • July 21, 2019

7 Unsur-Unsur Cerpen dan Penjelasannya Lengkap

7 Unsur-Unsur Cerpen dan Penjelasannya Lengkap

Cerpen sebagai salah satu karya rekaan (fiksi), merupaka satu kesatuan yang terdiri dari berbagai unsur. Unsur-unsur itu saling berkaitan, tidak terpisahkan satu sama lain. Dan secara bersama-sama membentuk cerita (Rusyana, 1982 : 65) Unsur-unsur yang membentuk cerpen terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
Unsur intrinsik adalah isi sustu karya sastra yang berkaitan dengan kenyataan-kenyataan di luar karya sastra itu (sukada, 1993 : 63).unsur intrinsik terdiri dari tema, alur, penokohan, latar, setting, gaya bercerita, sudut pandang, amanat, dan lain-lain.

1. Tema 

 Sumarjo dan saini mengemukakan definisi tema adalah ide sebuah cerita (1991 : 56) sedang Hartako dan Rachmanto mendefinisikan tema sebagai anggapan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra, dan yang terkandung dalam teks sebagai unsur sematis (dalam Nurgiyantoro, 1998 : 68). Kedudukan tema dalam cerpen sangat penting. Tema merupakan inti cerita mengikat keseluruhan unsure-unsur intrinsik. Kehadiran unsur-unsur seperti alur, latar, penokohan dan lain-lain adalah sebagai pendukung dari tema.

2. Alur 

Alur adalah struktur naratif bagi seluruh cerita dan harus dapat menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan gagasan hingga menjadi satu kesatuan cerita yang utuh didalam pengesahan cerita (Sudirman, 1991 : 31). Selanjutnya menurut Sudirman, pengaluran dalam suatu cerita adalah pengeluaran urutan penampilan peristiwa untuk memenuhi berbagai tuntutan sehingga peristiwa itu dapat tersusun dalam hubungan sebab akibat. Pendapat itu dipertegas oleh sumardjodan Saini dengan mengemukakanbahwa alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain ditimbulkan dengan hubungan sebab akibat. Peristiwa A adalah penyebab terjadinya peristiwa B, peristiwa B penyebab peristiwa C, dan seterusnya (1999 : 139). Menurut Sumardjo dan saini alur terdiri atas alur mundur, alur maju, alur maju mundur dan alur gabungan (1991 : 434). Selanjutnya masih menurut Sumardjo dan Saini, alur dapat dipecah lagi menjadi bagian-bagian berikut :
1. pengenalan;
2. timbul konflik;
3. konflik memuncak;
4. klimaks;
5. pemecahan masalah (1991 : 44).
Esten juga menyatakan bahwa alur dapat dibangun oleh bagian-bagian berikut ini :
1. situation, bagaimana pengarang melukiskan keadaan;
2. generating ciraanstance, peristiwa mulai bergerak;
3. rising action, keadaan mulai memucak;
4. climax, peristiwa mencapai klimaks.;
5. decoument, pengarang memberikan peristiwa.
Dari uraian diatas, dapat penulis kemukakan bahwa alur harus mempunyai rakaan dapat dirangkapkan dengan berbagai cara. Alur harus mempunyai hubungan yang jelas dengan unsur-unsur lain dalam cerita. Dalam alur terlihat perkembangan cerita, juga struktur urutan kejadian atau peristiwa dalam cerita yang disusn secara logis, terjalin dalam hubungan sebab akibat.

3. Penokohan. 

Jones dalam Nugiyantoro mengemukakan bahwa penokohan adalah gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (1998 : 165), atau penokohan karakter adalah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam cerita rekaan (Esten, 1994). Tokoh dalam cerpen bias banyak, tetapi berperang sebagai tokoh utama biasanya tidak lebih dari dua orang. Tokoh lain berfungsi sebagai penegas keberadaan tokoh utamanya. Tokoh utama biasanya menjadi sentral cerita, baik protagonist ataupun antagonis. Menurut Sumardjo dan Saini melukiskan watak tokoh dalam cerita dapat dengan cara sebagai berikut:
  1. Melalui perbuatan, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam menghadapi situasi kritis;
  2. Melalui ucapan-ucapannya;
  3. Melalui gambaran fisiknya;
  4. Melalui keterangan langsung yang ditulis oleh pengarang (1991 : 65-66).
Sudirman menyebutkan ada dua metode untuk menggambarkan watak tokoh, yaitu metode analitik dan metode dramatic. Metode analitik, biasa bias juga di sebut metode peran adalah pemaparan watak tokoh secara rinci baik ciri fisik maupun psikisnya. Sedang metode dramatik (metode ragam) adalah penggambaran watak tokoh melalui pikiran, Ucapan, tingka laku tokoh, lingkungan ataupun dari penampilan fisik saja.

4. Latar atau Setting. 

Latar atau setting mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan social tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiantoro, 1998 : 216), latar bukan hanya menunjukkan tempat dalam waktu tertentu, tetapi juga ada hal-hal lainnya. Menurut Kenney dalam Sudjiman, latar meliputi penggambaran lokasi geografis, termasuk topografi pemandangan, sampai pada rincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari tokoh-tokoh, waktu berlakunya kejadian, sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, emosional para tokoh (1991 : 44). Fungsi latar adalah memberikan informasi tentang situasi bagaimana adanya, merupakan proyeksi keadaan bating para tokoh.latar kaitannya dengan unsur-unsur lain, sebagai penokohan. Gambaran latar yang tepat bias menentukan gambaran watak tokoh. Latar dan unsur-unsur lain saling melengkapi agar bias menampilkan cerita yang utuh.

 5. Gaya Bercerita 

Gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang dalam menyampaikan cerita, bukan gaya bahasa. Setiap pengarang memiliki gaya yang khas dan berbeda dengan pengarang lainnya. Gaya erat kaitannya dengan cara pandang dan berfikir pengarang. Hal itu tercermin dalam bagaimana seseorang memilih tema, kata-kata, persoalan, dan meninjau persoalan hingga bias mencerminkannya dalam sebuah cerita (Sumardjo dan Saini, 1991:2).

 6. Sudut Pandang 

Sudut pandang adalah hubungan yang ada diantara pengarang dengan fiktif rekaannya, atau pengarang dengan pikiran dan perasaan para tokoh (tarigan, 1984 : 140). Sudut pandang adalah cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah fiksi, kapada pembaca. Harry Shaw dalam sudjirman menyatakan bahwa sudut pandang pemisah meliputi:
  1. Sudut pandang fisik, yaitu posisi dalam ruang dan waktu yang digunakan pengarang dalam pendekatan materi cerita;
  2. Sudut pandang mental, yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap cerita;
  3. Sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih oleh pengarang dalam membawakan cerita sebagai orang pertama, kedua atau orang ketiga (1991 : 76).
Sedangkan Nurgiantoro membedakannya dalam tiga bentuk yaitu
a). sudut pandang pesona, “aku” terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai pencerita,
b). sudut pandang pesona ketiga,
c). sudut pandang antara pesona dengan ketiga (1998 : 76).
Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa sudut pandang merupakan strategi, dan teknik yang sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasannya dalam bentuk cerita.

 7. Amanat 

 Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Akhir permasalahan ataupun jalan keluar dari permasalahan yang timbul dalam sebuah cerita, keduanya bias disebut amanat. Rusyana mengemukakan pendapatnya tentang amanat, sebagai renungan yang disajikan kembali kepada pembaca (1982 : 74). Nurgiantoro membaginya dalam dua wujud atau bentuk, yaitu bentuk penyampaian langsung dan penyampaian tak langsung (1998 : 335).

Sumber:

  1. https://kelasips.co.id/

Wahyudi

E-mail : admin@thailandomania.com