Sepucuk surat dari sahabat kecilku

  • September 3, 2019

Sepucuk surat dari sahabat kecilku

Sepucuk surat dari sahabat kecilku

 

Sedulurku Susilo
Pagi ini aku bangun tidur dengan diguyur keberkahan Gusti Sus, anakku si ragil per-lahan2 sekali menggoyang tubuh kurusku. Seolah takut akan ada tulangku yang bergeser, sentuhannya hanya membuat selimutku bergerak sedikit. Anakku seperti tidak tega mengusik tidur nyenyak ibunya, tetapi dia ingin memberikan kejutan untuk ibunya. Kejutan yang mengharu biru pagiku Sus.

“Ma…ayo tiup lilinnya, ayo berdo’a di hari jadi mama, di ulang tahun mamaku tersayang…”. Bisikan suara lirih si bontot ‘seperti membentangkan tangga didepan mataku menuju awan’.
Iya pagi2, disaat nyawaku belum berkumpul sempurna karena baru bangun dari tidurku, aku diminta meniup lilin yang kulihat menyala dengan indahnya di atas kue tart ulang tahun.

Kutarik selembar kain untuk menutupi kepalaku yang selama ini dibotakin oleh obat2an kemo. Kutarik semua hawa seisi kamar yang semua berubah menjadi hangat dan nyaman di hati ini. Kulempar jauh2 rasa lara yang menyakiti tubuhku setahun terakhir ini.
Kutarik tubuh si ragil, kupeluk penuh cinta, “Terimakasih sayang” air hangat di pojokan pelupuk mataku tak kuasa kubendung. Kueratkan pelukanku, seolah melepas rindu untuk si sulung yang sedang belajar di negeri orang, tepatnya di Scotlandia sana dan aku merasakan pelukan anakku yang kedua yang saat ini ada di Jakarta. Semuanya seperti hadir berkumpul dalam cinta dan rinduku di sini.

Cinta dan rindu seorang ibu, seorang ibu dari tiga putra yang sudah ditinggal pergi bapaknya ke surga. Bahagianya seorang istri yang sudah tidak lagi didampingi oleh suami belahan jiwanya. Bahagianya seorang nenek, nenek yang ditinggal pergi kakek pasangannya untuk selama lamanya. Sang kakek, suami tercintanya, saat ini pasti sedang tersenyum bahagia di surga sana, begitu bahagia melihat istrinya berulang tahun di dunia yang fana ini.

Sus,
Jalan cerita hidupku tidak seelok dan sewangi perjalanan hidupmu Sus. Hidupmu bersimbah cinta dan kasih sayang dari orang2 terdekatmu, ayah bundamu, kakak2 dan adik2mu, kakek nenekmu, bahkan teman2 dan sahabat2mu.
Beda sekali denganku Sus, pisau kehidupan memutuskan benang2 cinta dan kasih sayang orang2 yang kucintai dalam hidupku, meski kuterima semua sebagai ketentuan Tuhan, tetap saja ‘sakitnya itu disini’.

Aku belum menjalani ujian SD, ayah pergi dan membuat aku dan kakak2ku menjadi anak2 Yatim. Jadi ketika teman2 SMP 8 bisa bermanja manja dengan papanya, aku hanya bisa pergi nyekar ke makam bapakku. Menceriterakan rinduku kepada bapak, sambil mencabuti rerumputan yang membuat makam bapakku menjadi ‘kelihatan njembrung’. Terkadang gerimis menyembunyikan air mataku.

Sus,
statusku naik, dari anak yatim kemudian disempurnakan Tuhan menjadi Yatim Piatu saat aku masih belum lulus dari SMA. Saat bapak dan mamaku bersatu kembali di surga, aku menyatu dengan kakak-ku, tepatnya ikut kakakku, yang sudah berumah tangga. Tidak ingin membebani kakak yang relatif masih baru dalam membina rumah tangga, belum kokoh secara financial, aku sekolah sambil nyambi cari uang sendiri, aku sekolah sambil bekerja. Semua itu membuat kosa kata manja terhapus dari kamus hidupku.

Sus,
kenapa kok aku mau curhat denganmu? Ya, karena kamu teman suamiku, ‘netes dari petarangan yang sama dengan suamiku’, sama2 ‘mbrojol dari rahim De Britto’. Kamu dipanggil ustadz, tapi bentangan toleransimu menerobos iman, menerima teman yang bertuhan Yesus dengan kasih hangatmu, mengerti sahabat kita yang Hindu dengan tulus dan jujurmu, tak pernah mengusik keimanan orang lain. Aku senang melihat imanmu tak dibatasi dengan ego sektarian yang merasa paling benar sendiri, tidak pernah meng-kafirkan orang yang berselisih paham bahkan berlainan iman denganmu.

Sus,
aku sempat berharap keluargaku yang nyaris sempurna dengan suami yang penuh kasih, dengan ketiga anak2ku yang pintar penuh berbakti, akan menghentikan sekuel sejarahku, yaitu rentetan kehilangan orang2 yang kucintai. Ternyata Tuhan masih menguji imanku, suamiku tercinta dipanggilnya berpulang juga ke rumah bapa di surga. Sempat juga aku memiliki nota keberatan dan bertanya ke Tuhan : ”Tuhan, setelah ayahku, ibuku kemudian suamiku, maksudMu apa sih Han…?”. Jawaban Tuhan diberikan melalui prestasi dan kemandirian anak2ku. Aku hanya bisa pasrah dan mencoba tegar dibalik lautan air mata yang selalu kusembunyikan dari anak2ku.

Sus,
usaikah ujian hidupku? Belum Sus, ketika tugasku tinggal menggembleng si bontot agar setangguh kakak2nya, Tuhan menitipkan tumor di tubuhku. Bukan sakit biasa, pengobatannya harus melalui proses yang panjang dan sangat menyakitkan. Hari hariku diisi dengan demam, mual, pusing dan ketidak nyamanan yang sangat menyakitkan. Biopsi, CT Scan, Kemoterapi dan sederet terapi yang semua melukai semangat hidupku, melukai tubuhku yang semakin kering dan membuat rambutku rontok semua. Semua kujalani dengan total kepasrahanku, semua kuyakini sebagai ketentuan Tuhan untukku. Setelah orang2 yang kucintai diambil satu persatu, aku focus untuk bersahabat dengan penyakitku, agar bisa menumpuk cintaku untuk semua buah hatiku.

Aku masih bisa tersenyum dan bahagia Sus, selain ada anak2ku yang membanggakan dan membahagiakan aku, aku memiliki sahabat2 kecil yang mengasihiku. Teman2 kecilku yang selalu menyemangatiku, me-niup2 bara yang kadang meredup dalam asaku. Teman2 kecilku yang ber-bondong2 datang ke gubugku dengan menenteng kasih, membagikan cintanya untukku. Terimakasih teman2 kecilku. Aku juga menagih janjimu, yang setahun bahkan mungkin sudah lewat dua tahun, belum sempat ke rumahku.

Sus,
Tuhan dengan caraNYA sendiri, memberikanku kebahagiaan pagi tadi. Lewat api yang menyulut lilin2 kecil diatas kue tart yang disiapkan si bontot. Lewat video call dari benua Eropa sana, lewat suara cedal cucuku yang sudah berintonasi ke-londo2-an itu. Lewat teriakan dan bahasa planet cucuku yang di Jakarta. Tentu Tuhan memberikan kehangatan juga melalui do’a teman2 kecil Guwekku. Semua menguatkan tekadku untuk menjalani tindakan medis dan terapi untuk mengusir penyakit dari tubuh ini.

Sus,
aku hanya ingin mengingatkanmu sebagai seorang sedulur dan sahabatmu. Dari teman2 SMP kita saja, berapa orang yang saat ini hidupnya harus rutin menghirup aroma alkohol dan obat2an di rumah sakit? Banyak sekali, ada yang berpuluh kali tubuhnya disayat pisau operasi, tidak sedikit yang harus menggunakan cincin di jantungnya, belum yang disiksa dengan kemoterapi, banyak sekali Sus.

Aku sama sekali tidak iri, bahkan aku ikut senang melihat foto2 pamermu di puncak gunung, ditenda tepian hutan, mengayuh sepeda jauh sekali di usia yang nyaris menyentuh angka enam, karena seperti kata2mu, semua orang memiliki jalan cerita hidupnya sendiri2.
Aku hanya mengingatkanmu untuk senantiasa bersyukur Sus.

Terimakasih sudah mau menjadi pendengar yang baik, aku ingin ingin berbagi kisah, bukan memindahkan bebanku ke pundakmu. Apapun warna hidup kita, kabeh wis ginaris.

Salam
Sahabat n sedulurmu

*Dari pesan whatsapp Ibuku, Ibu Mujiwati, ke sahabatnya (ditulis pada hari ulang tahunnya, 9 Februari 2018). Ibu yang tidak pernah mengeluh dan menerima segala ketentuan Tuhan dengan penuh ketegaran dan keikhlasan

Sumber : https://uptodown.co.id/

Wahyudi

E-mail : admin@thailandomania.com