Dampak Konflik

  • October 8, 2019

Dampak Konflik

Dampak Konflik

Konflik dapat berdampak positif dan negatif yang rinciannya adalah sebagai berikut :
1. Dampak Positif Konflik
Menurut Wijono (1993:3), bila upaya penanganan dan pengelolaan konflik karyawan dilakukan secara efisien dan efektif maka dampak positif akan muncul melalui perilaku yang dinampakkan oleh karyawan sebagai sumber daya manusia potensial dengan berbagai akibat seperti:
1. Meningkatnya ketertiban dan kedisiplinan dalam menggunakan waktu bekerja, seperti hampir tidak pernah ada karyawan yang absen tanpa alasan yang jelas, masuk dan pulang kerja tepat pada waktunya, pada waktu jam kerja setiap karyawan menggunakan waktu secara efektif, hasil kerja meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.
2. Meningkatnya hubungan kerjasama yang produktif. Hal ini terlihat dari cara pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan analisis pekerjaan masing-masing.
3. Meningkatnya motivasi kerja untuk melakukan kompetisi secara sehat antar pribadi maupun antar kelompok dalam organisasi, seperti terlihat dalam upaya peningkatan prestasi kerja, tanggung jawab, dedikasi, loyalitas, kejujuran, inisiatif dan kreativitas.
4. Semakin berkurangnya tekanan-tekanan, intrik-intrik yang dapat membuat stress bahkan produktivitas kerja semakin meningkat. Hal ini karena karyawan memperoleh perasaan-perasaan aman, kepercayaan diri, penghargaan dalam keberhasilan kerjanya atau bahkan bisa mengembangkan karier dan potensi dirinya secara optimal.
5. Banyaknya karyawan yang dapat mengembangkan kariernya sesuai dengan potensinya melalui pelayanan pendidikan (education), pelatihan (training) dan konseling (counseling) dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Semua ini bisa menjadikan tujuan organisasi tercapai dan produktivitas kerja meningkat akhirnya kesejahteraan karyawan terjamin.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/

Sumber-Sumber Konflik

  • October 8, 2019

Sumber-Sumber Konflik

Sumber-Sumber Konflik

1. Konflik Dalam Diri Individu (Intraindividual Conflict)
A. Konflik yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai (goal conflict)
Menurut Wijono (1993, pp.7-15), ada tiga jenis konflik yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai (goal conflict), yaitu:
1) Approach-approach conflict, dimana orang didorong untuk melakukan pendekatan positif terhadap dua persoalan atau lebih, tetapi tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain.
2) Approach-Avoidance Conflict, dimana orang didorong untuk melakukan pendekatan terhadap persoalan-persoalan yang mengacu pada satu tujuandan pada waktu yang sama didorong untuk melakukan terhadap persoalan-persoalan tersebut dan tujuannya dapat mengandung nilai positif dan negatif bagi orang yang mengalami konflik tersebut.
3) Avoidance-Avoidance Conflict, dimana orang didorong untuk menghindari dua atau lebih hal yang negatif tetapi tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain.
Dalam hal ini, approach-approach conflict merupakan jenis konflik yang mempunyai resiko paling kecil dan mudah diatasi, serta akibatnya tidak begitu fatal.

B. Konflik yang berkaitan dengan peran dan ambigius
Di dalam organisasi, konflik seringkali terjadi karena adanya perbedaan peran dan ambigius dalam tugas dan tanggung jawab terhadap sikap-sikap, nilai-nilai dan harapan-harapan yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi.
Filley and House memberikan kesimpulan atas hasil penyelidikan kepustakaan mengenai konflik peran dalam organisasi, yang dicatat melalui indikasi-indikasi yang dipengaruhi oleh empat variabel pokok yaitu :
1) Mempunyai kesadaran akan terjadinya konflik peran.
2) Menerima kondisi dan situasi bila muncul konflik yang bisa membuat tekanan-tekanan dalam pekerjaan.
3) Memiliki kemampuan untuk mentolelir stres.
4) Memperkuat sikap/sifat pribadi lebih tahan dalam menghadapi konflik yang muncul dalam organisasi (Wijono, 1993, p.15).

Stevenin (2000, pp.132-133), ada beberapa faktor yang mendasari munculnya konflik antar pribadi dalam organisasi misalnya adanya:
1. Pemecahan masalah secara sederhana. Fokusnya tertuju pada penyelesaian masalah dan orang-orangnya tidak mendapatkan perhatian utama.
2. Penyesuaian/kompromi. Kedua pihak bersedia saling memberi dan menerima, namun tidak selalu langsung tertuju pada masalah yang sebenarnya.
Waspadailah masalah emosi yang tidak pernah disampaikan kepada manajer. Kadang-kadang kedua pihak tetap tidak puas.
3. Tidak sepakat. Tingkat konflik ini ditandai dengan pendapat yang diperdebatkan. Mengambil sikap menjaga jarak. Sebagai manajer, manajer perlu memanfaatkan dan menunjukkan aspek-aspek yang sehat dari ketidaksepakatan tanpa membiarkan adanya perpecahan dalam kelompok.
4. Kalah/menang. Ini adalah ketidaksepakatan yang disertai sikap bersaing yang amat kuat. Pada tingkat ini, sering kali pendapat dan gagasan orang lain kurang dihargai. Sebagian di antaranya akan melakukan berbagai macam cara untuk memenangkan pertarungan.
5. Pertarungan/penerbangan. Ini adalah konflik “penembak misterius”. Orang-orang yang terlibat di dalamnya saling menembak dari jarak dekat kemudian mundur untuk menyelamatkan diri. Bila amarah meledak, emosi pun menguasai akal sehat. Orang-orang saling berselisih.
6. Keras kepala. Ini adalah mentalitas “dengan caraku atau tidak sama sekali”.
Satu-satunya kasih karunia yang menyelamatkan dalam konflik ini adalah karena biasanya hal ini tetap mengacu pada pemikiran yang logis. Meskipun demikian, tidak ada kompromi sehingga tidak ada penyelesaian.
7. Penyangkalan. Ini adalah salah satu jenis konflik yang paling sulit diatasi karena tidak ada komunikasi secara terbuka dan terus-terang. Konflik hanya dipendam. Konflik yang tidak bisa diungkapkan adalah konflik yang tidak bisa diselesaikan.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/

Prof Yuddy: Indonesia Perlu Melakukan Political Engineering

  • October 4, 2019

Prof Yuddy: Indonesia Perlu Melakukan Political Engineering

Prof Yuddy Indonesia Perlu Melakukan Political Engineering

Indonesia harus rasional dalam mengambil pilihan industri yang akan dikembangkan.

Sekalipun sebenarnya, telah memiliki semua jenis industri. Mulai dari industri ekstraktif hingga industri yang berbasiskan teknologi tinggi (high technology).
Prof Dr Yudi Chrisnandi
SUHENDRIK/BANDUNG EKSPRESORASI ILMIAH: Prof Dr Yuddy Chrisnandi berbicara tentang perlunya pembangunan berorientasi jangka panjang di Unas, Sabtu lalu.

Oleh karena itu, perlu dilakukan political engineering pembangunan ekonomi industri yang berorientasi jangka panjang. Dengan inisiatif pemimpin tertinggi pemerintahan untuk mengajak para pemimpin politik dan pemimpin pemerintahan lainnya, membuat kesepakatan tentang rencana pembangunan ekonomi industri Indonesia masa depan.

Hal itu ditegaskan Prof Dr H Yuddy Chrisnandi M E dalam pidato pengukuhan Guru Besar

Universitas Nasional di Jakarta, Sabtu (23/5). ”Political engineering diperlukan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat dan terhormat di tengah pergaulan antar bangsa di dunia. Dan memberikan kemakmuran seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia,” ujar dia.

Acara pengukuhan guru besar dimaksud dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja. Seperti, Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, Menteri Perindustrian, Menteri PU dan Perumahan Rakyat, Menteri Komunikasi Informasi dan Teknologi, Menteri Pertania, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Sosial, Menteri PDT, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Kepala BIN, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, para Rektor Perguruan Tinggi, Gunernur, Bupati dan Wali Kota. Hadir pula Mantan Wakil Presiden ke-6 RI Tri Sutrisno dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto. Serta, sejumlah pejabat tinggi dari Partai Politik seperti Abu Rizal Bakrie, Akbar Tandjung, dan sebagainya.

Yuddy menyampaikan pidato berjudul ’Pembangunan Ekonomi Industri dan Kebijakan Publik

untuk Kesejahteraan Rakyat’. Yuddy mengungkapkan, industri yang dikembangkan bukan untuk mengejar ketertinggalan atau bertarung dengan negara industri terkemuka dunia (Top 10 Technology Oriented Countries) seperti Jepang, Amerika, Jerman, Kanada. Namun, Indonesia harus berani mengambil keputusan, untuk mengembangkan industri yang memiliki keunggulan komparatif. Industri ini harus bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli rakyat, perluasan lapangan kerja, keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi yang luas untuk menghasilkan devisa nasional yang sebesar-besarnya sebagai modal pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut pria kelahiran Bandung tanggal 29 Mei 1968, yang kini menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) ini, pembangunan ekonomi industri seharusnya berbasis pada keunggulan komparatif lokal atau kewilayahan. Menekankan pentingnya kelestarian lingkungan hidup dalam pemanfaatan sumber daya alam sebagai material produksi. ’’Pembangunan dan pengembangan industri ekstraktif tanpa meninggalkan industri berteknologi tinggi, serta sektor manufaktur lainnya. Dengan melibatkan keunggulan ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja, sehingga mampu meningkatkan pendapatan nasional berlipat ganda,” jelas dia.

 

Baca Juga :

Bangunan Baru Terganjal Lelang

  • October 4, 2019

Bangunan Baru Terganjal Lelang

Bangunan Baru Terganjal Lelang

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung, membantah pihaknya tidak serius membangun gedung baru untuk Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lebakwangi 1 di Kampung Pasirjati, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) TK/SD Disdikbud Kabupaten Bandung Maman Sudrajat

, belum dibangunnya gedung sekolah tersebut karena terbentur peraturan. Pasalnya, pembangunan sekolah harus melalui berbagai persyaratan dan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. ’’Sekarang ini baru masuk tahap lelang, jadi kami masih menunggu proses lelang. Kalau sudah ada yang menang dalam lelang, baru mulai ditentukan pembangunannya. Makanya pembangunan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat ini,’’ ujar Maman kepada Soreang Ekspres (Grup Bandung Ekspres) saat ditemui di kantornya kemarin (28/5).

Meski begitu, Maman tidak menampik bahwa pembangunan SDN Lebakwangi 1 sudah dijanjikan akan mulai dilakukan pada April lalu. Namun, kata dia, untuk membangun sebuah gedung sekolah perlu adanya perencanaan yang matang. ’’Kan sebelum lelang harus ada perencanaan lokasi dulu dan proses administrasi lainnya, jadi tidak bisa cepat. Kemudian kan tidak bisa sembarang dibangun begitu saja, kontruksi bangunan juga harus benar-benar kuat agar tidak ada kejadian yang tidak diinginkan,’’ jelasnya.

Dirinya pun meminta pihak sekolah agar sedikit bersabar, karena proses pelelangan

akan dimulai dalam waktu dekat ini. ’’Kalau proses lelangnya tidak ada masalah, insya Allah tahun ini pembangunan sudah bisa dimulai, jadi sabar saja dulu,’’ kata dia.

Sebelumnya, sejak Januari lalu pihak sekolah sudah tidak boleh menggunakan bangunan lama yang telah diambilalih oleh ahli waris pemilik lahan. Hal tersebut mengakibatkan para siswa terlantar dan terpaksa belajar di GOR Desa Lebakwangi

Pihak sekolah pun mengaku kecewa karena sampai saat ini, pihak Disdik tidak pernah meninjau

kondisi siswa yang belajar di dalam GOR dengan disekat oleh papan triplek. Bahkan, pihak sekolah khawatir orang tua siswa akan memindahkan anak-anaknya ke sekolah lain karena melihat kondisi tersebut.

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/sejarah-terbentuknya-bumi/

Tak Ingin Ada Dikotomi

  • October 4, 2019

Tak Ingin Ada Dikotomi

Tak Ingin Ada Dikotomi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung Juhana mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mengadakan pertemuan terkait mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Namun, dia memperkirakan tidak akan banyak perbedaan dengan tahun lalu.

’’Saya rasa tidak akan jauh berbeda. Ada jalur prestasi, afirmasi dan non prestasi,’’ katanya kepada Soreang Ekspres (Grup Bandung Ekspres) saat ditemui di ruang kerjanya Senin (1/6).

Pada proses PPDB tahun ini, dia memiliki target tersendiri walaupun belum memiliki tekhnis resminya. Dia berharap, tidak ada lagi dikotomi lagi antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Karena selama ini, pemahaman para orang tua siswa terhadap sekolah swasta di Kabupaten Bandung seakan memandang sebelah mata. ’’Saya ingin menghapuskan pemahaman tersebut. Karena pada hakekatnya sekolah negeri ataupun sekolah swasta sama saja,’’ tambah dia.

Juhana menjelaskan, tidak ada perbedaan antara keduanya. Kurikulum

yang digunakan sama, memakai tenaga guru dengan profesionalitas yang sama pula, sarana dan prasarana pendidikan juga sama. ’’Semuanya kan telah diatur oleh standar nasional pendidikan. Baik standar isi, proses, biaya, evaluasi dan sebagainya,’’ jelasnya.

Padahal menurut dia, banyak juga sekolah swasta yang memiliki standar dan kualitas yang sangat mumpuni. Di kota-kota besar bahkan di luar negeri, biasanya kaum menengah ke atas lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta karena dianggap lebih bergengsi. Seperti di Kabupaten Bandung misalnya, ada juga beberapa sekolah swasta yang dianggap high class seperti Al-Ma’soem, Al-Mabrur dan Talenta. ’’Itu merupakan sekolah-sekolah swasta yang banyak dipilih oleh masyarakat,’’ terang dia.

Tetapi, mindset masyarakat Kabupaten Bandung selama ini banyak yang masih menganggap

bersekolah di sekolah negeri lebih bagus daripada di sekolah swasta. ’’Karena itu, untuk PPDB kali ini saya ingin mengubah mindset tersebut. Para orang tua harus paham dan tidak memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah negeri,’’ ungkapnya.

Seperti diketahui, di tahun-tahun sebelumnya setiap kali memasuki tahun ajaran baru

pada proses PPDB di Kabupaten Bandung, selalu diwarnai dengan kekisruhan penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah negeri akibat banyaknya orangtua yang memaksakan anaknya. Padahal, hal tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. ’’Saya mengimbau kepada masyarakat yang akan menyekolahkan anaknya, pilihlah sekolah yang lebih memungkinkan untuk anak agar bisa berkonsentrasi dalam belajar,’’ pungkasnya.

 

Sumber :

https://www.pesawarankab.go.id/pages/sejarah-bpupki/

Menjual Sisir

  • September 29, 2019

Menjual Sisir

Menjual Sisir

Pada suatu hari, sebuah perusahaan sisir akan mengadakan ekspansi untuk area pemasaran yang baru. Perusahaan sisir tersebut lalu membuka lowongan pekerjaan. Karyawan baru itu akan ditempatkan di Divisi Marketing. Setelah lowongan dibuka, banyak sekali orang yang mendaftarkan diri untuk mengisinya. Lebih dari 100 orang pelamar datang ke perusahaan itu setiap harinya.

Setelah melalui berbagai proses seleksi yang cukup ketat, terpilihlah tiga kandidat utama. Sebut saja A, B, dan C. Perusahaan lalu melakukan seleksi final dengan memberi tugas kepada tiga orang terpilih. Seleksi finalnya ialah A, B, dan C diminta untuk menjual sisir kepada para biksu – yang tinggal pada sebuah komplek wihara – di area pemasaran baru tersebut – dalam jangka waktu 10 hari. Bagi sebagian orang, tugas ini sangat tidak masuk akal, mengingat biksu-biksu itu berkepala gundul dan tidak pernah memerlukan sisir.

Sepuluh hari pun berlalu, akhirnya tiba saat ketiga pelamar tersebut datang kembali pada perusahaan untuk melaporkan hasil penjualannya.

Pelamar A :
Saya hanya mampu menjual satu sisir. Saya sudah berusaha menawarkan sisir itu kepada para biksu di sana, tetapi mereka malah marah-marah karena saya dikira melecehkan. Tetapi untung, ketika saya berjalan menuruni tangga, ada seorang biksu muda yang mau membeli satu sisir saya. Sisir itu akan ia gunakan untuk menggaruk kepalanya yang ketombean.

Pelamar B:
Saya berhasil menjual sepuluh buah. Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan – karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya – dan membeli 10 sisir untuk para peziarah – agar mereka menunjukkan rasa hormat pada sang Buddha – saat bersembahyang.

Pelamar C:
Saya berhasil menjual seribu buah. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari di biara itu, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana . Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, “Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.” Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir bagus dan murah. Saya lalu meminta pimpinan biksu tersebut untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir – sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir.
Memang, akhirnya perusahaan sisir tersebut menerima ketiga orang tersebut sebagai karyawan-karyawan barunya. Tetapi tentu saja posisi mereka di perusahaan dibedakan. Pelamar C ditempatkan sebagai Marketing Manajer yang baru, pelamar B menjadi asisten manajernya, sedangkan pelamar A hanya menjadi sales marketing biasa.

Kerabat Imelda…Cerita tadi menggambarkan riset yang pernah Universitas Harvard. Riset tersebut menunjukkan bahwa 85% kesukesan adalah karena sikap dan 15% adalah karena kemampuan. Sikap ternyata lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus, dan keberuntungan. Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial, dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap dalam menghadapi masalah.

Sedangkan keputusan perusahaan untuk menyuruh ketiga pelamar tersebut menjual sisir pada biksu sangat mencerminkan kata-kata Dalai Lama, “Lingkungan yang keras sangat membantu untuk membentuk kepribadian, sehingga dimiliki nyali kuat untuk menyelesaikan semua masalah.”
sooo… mungkin ini adalah salah satu jawaban kenapa saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkan sikap kerja yang benar, yaitu menitikberatkan pada pemberdayaan diri, hubungan sosial, dan adaptasi (85%) – tetapi tetap tidak melupakan skill (15%) – agar bisa mendapatkan kesuksesan yang 100%.

Baca Juga : 

Love is an Action

  • September 29, 2019

Love is an Action

Love is an Action

Awalnya aku tak pernah cemburu. Tak juga berpikir panjang, cerita menggiurkan apalagi yang akan dibaginya padaku. Semua mengalir begitu saja, saat setiap hari kulihat dirinya dijemput mobil mewah, diperlakukan bak tuan putri, selalu bisa memakai gaun mewah dan memamerkan foto-foto indahnya.

Aku lantas melihat kepada diriku di depan cermin, betapa beruntungnya Nadya saat itu. Aku juga sering mendengar cerita bahwa Roy, kekasih Nadya selalu mengirimkan puisi indah, menelepon malam-malam hanya demi mengatakan rindunya.

Belakangan ini, aku semakin cemburu padanya, karena Nadya bilang Roy akan segera mengenalkannya pada orang tuanya. Melamar dengan cincin indah di sebuah hotel mewah, dan memintanya menjadi pendamping hidup. Oh, sungguh indah, dan tak diragukan lagi, Nadya hidup seperti di dalam dongeng. Bak seorang putri yang keluar dari buku dongeng dan hidup di dunia nyata.

Sedangkan aku…

Sakti, sosok yang sudah memacariku lebih dari 5 tahun. Membawaku pergi ke mana-mana dengan motornya. Dan tentu saja aku tak pernah sempat memakai sebuah gaun saat diajaknya berkencan. Aku juga menyesuaikan tampilanku saat bermalam minggu dengannya. Praktis dengan t-shirt dan jeans, yang akan mempermudahnya membonceng diriku. Tak juga pernah kuterima SMS manis darinya, hanya SMS-SMS singkat. Bahkan saat ditanya soal kangen, ia akan balas menggodaku, menjahiliku dengan mengatakan tidak pernah merasa kangen. Tak ada bunga dan cokelat di hari Valentine, karena katanya semua hari itu sama. Tak ada pula kado-kado indah, kata-kata manis, makan malam romantis, apalagi sebuah cincin.

Aku jadi semakin bertanya-tanya, mau di bawa ke mana hubunganku ini? Sampai kapan aku harus bertahan begini? Atau aku sudahi saja dengannya?

Isak tangis Nadya kemudian membuatku gugup. Entah angin apa yang mengganggunya kali ini. Ia yang selalu ceria, tertawa dan tak pernah terlihat sedih, tiba-tiba datang berurai air mata, bak badai di tengah hari. Lantas kutahu dari setiap isakannya, Roy telah meninggalkannya. Dengan tega hati melupakan janji dan semua perkataan manisnya. Dan belakangan, kutahu bahwa ternyata Nadyalah yang banyak berkorban demi Roy. Memberikannya uang dalam jumlah besar setiap bulannya, membelikan hadiah-hadiah, baju dan barang-barang mahal. Sama sekali bukan seperti yang kukira.

Tentu saja, tak akan ada acara pertemuan dengan orang tua. Tak ada cincin manis disematkan di jari saat makan malam di restaurant romantis. Tak ada itu cinta!

Dan akupun terhenyak sadar. Sakti. Tak pernah mengucapkan semua kata gombal itu. Tak juga menjanjikan hal-hal manis dan mengumbarnya sepanjang waktu. Yang kuingat, ia selalu memperhatikanku, bersikap baik dan berusaha membahagiakanku. Tanpa perlu mengatakan bahwa ia mencintaiku. Seharusnya aku tahu. Ya, aku tahu. Sakti mencintaiku dengan segala sikap yang ditunjukkannya padaku. Bukan dengan kata-kata madu yang ternyata racun itu.

Kerabat Imelda…Apalah arti kata “I love you” jika sebatas di bibir saja?

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/

Apa Sih Pentingnya Keset

  • September 29, 2019

Apa Sih Pentingnya Keset

Apa Sih Pentingnya Keset

Sebuah keset mengeluh pada temannya yang adalah sekuntum bunga mawar segar. Berikut percakapan mereka:

Keset pun memulai obrolan. “Aku iri padamu, War. Setiap pagi kamu dipetik, diberi air, kadang dicium oleh para wanita cantik karena keharumanmu. Setiap orang mengagumi warna merahmu yang indah. Sedangkan aku? Aku diinjak-injak setiap hari. Tak ada seorang pun yang memandang, apalagi menghargaiku. Mereka hanya menggunakan aku untuk membersihkan alas sepatu mereka yang kotor.”

Lalu Bunga Mawar menjawab. “Keset, kamu dan aku memang berbeda. Kamu memiliki fungsimu sendiri, demikian juga dengan aku. Kalau aku dipilih untuk mempercantik dan mengharumkan ruangan, maka para manusia itu memilih kamu untuk tujuan lain.”

“Aku tak melihat ada kegunaan baik dari diriku. Lihat saja diriku! Penuh dengan kotoran lumpur dan debu. Aku bosan terus menerus begini.” protes Keset.

Bunga Mawar kemudian menghibur Keset. “Siapa bilang kamu tak berguna? Coba sekarang kamu lihat ruangan sekelilingmu! Debu maupun tanah yang biasanya melekat di dasar sepatu orang-orang itu tak sampai mengotori ruangan. Dan semua itu karena siapa? Karena kamu. Karena jasamulah ruangan ini bisa tetap bersih.”

Keset pun mulai berpikir. “Ii..iya sih, tapi lihat aku kan yang jadi kotor…”

Bunga Mawar berusaha kembali memberi penjelasn kepada temannya itu. “Keset yang kotor masih bisa dicuci dan dibersihkan lagi. Selain itu, kamu juga selalu ada di ruangan ini sepanjang waktu karena kamu memang dibutuhkan. Lain dengan aku. Aku tidak bisa dicuci. Sekali layu, aku akan dibuang begitu saja. Tidak setiap saat aku bisa berada dalam ruangan ini. Aku hanyalah sebuah hiasan, bukan kebutuhan.”

Kerabat Imelda….Sejak mendengar penjelasan panjang lebar dari si mawar, keset mulai menegakkan kepalanya dan berbangga hati. Meski diinjak-injak setiap hari, namun dia tahu bahwa dia tetap memiliki guna.

Bagaimanakah dengan Anda? Apakah saat ini Anda merasa sedang dipandang remeh oleh orang lain? Apakah keberadaan Anda jauh dari sorotan? Jangan khawatir! Meski tak dipandang, tetap lakukan tugas Anda sebaik-baiknya, sebab akan tiba waktunya, dan Anda pasti mendapatkan upah dari segala jerih lelah. Semangat!

Sumber : https://icanhasmotivation.com/

Hadirkan Sosok Inspirasi

  • September 25, 2019

Hadirkan Sosok Inspirasi

Hadirkan Sosok Inspirasi

BANDUNG – SMP Darul Hikam (DH) memperingati Hari Pahlawan dengan cara yang beda.

Tak hanya sekedar seremonial, namun memunculkan sosok inspirasi.

Menurut guru senior DH Linda Nurlinda, pahlawan merupakan sosok yang mampu menginspirasi banyak orang. Guru yang telah mengajar sejak tahun 1994 tersebut, mengatakan sosok pahlawan yang dimunculkan kali ini ialah sejumlah alumni DH yang sudah terbilang sukses di waktu muda. Seperti Media Zein, pengusaha muda yang sukses di bidang kecantikan, travel, kuliner dan lainnya.

Lanjut Linda kedatangan sejumlah alumni tersebut diperuntukan untuk menjadi guru

tamu yang dapat memberikan motivasi kepada seluruh siswa DH agar mereka bisa tahu, bagaimana menjadi pahlawan saat ini. ”Dengan menjadi pengusaha kita bisa membantu, membuka peluang untuk orang lain,” kata Linda saat ditemui di SMP Darul Hikam, Jalan Djuanda Kota Bandung, kemarin (9/11).

Terang dia, guru tamu yang khusus dilaksanakan setiap hari pahlawan. Dimana pada tahun ini, para guru tamu merupakan alumni sekolah yang sudah sukses dan berbagi pengalaman dengan para adik kelasnya. ”Alumni yang sudah berhasil, kini menjadi guru tamu yang berbagi pengalamannya untuk memotivasi juniornya,” ungkapnya.

Menurutnya dengan menjadi guru maka para alumni dapat merasakan pengalaman

sebagai seorang guru, terutama dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada siswa. Disamping memberikan pengajaran dalam memotivasi dan menginspirasi para siswa. ”Jadi siswa dapat melihat bagaimana kerja keras yang dilakukan para alumninya untuk sukses dan maju,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut terdapat 20 guru tamu dari alumni yang mengajar di 16 kelas di SMPN Darul Hikam. Dimana dari setiap alumni memiliki berbagai macam latar belakang mulai dari pengusaha, mahasiswa, karyawan, dokter dan lain sebagainya. ”Kisah inspiratif mereka tentu akan menjadi cerminan bagi para siswa dalam menentukan langkahnya ke depan. Terlebih banyak siswa yang masih bingung apa yang akan dilakukan oleh mereka setelah menyelesaikan jenjang pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu salah seorang guru tamu yang juga pengusaha muda, Median Zein merasa bangga dan senang karena dapat mengajar di sekolah yang telah membesarkannya tersebut. Dimana dapat berbagi pengalaman dan motivasi terutama untuk berani menjadi seorang enterpreuneur.

”Ini merupakan kesempatan langka karena dapat berbagi dengan adik kelas. Dalam hari pahlawan ini, kita sebagai alumni ingin memperlihatkan bagaimana kegigihan dan perjuangan untuk dapat memperoleh hasil terbaik,” tambahnya

 

Baca Juga :

Didik Anak, Orang Tua dan Guru Bersikap Bijak

  • September 25, 2019

Didik Anak, Orang Tua dan Guru Bersikap Bijak

Didik Anak, Orang Tua dan Guru Bersikap Bijak

BANDUNG – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung menggelar seminar parenting di Hotel Travello

Kota Bandung, kemarin (16/11). Kegiatan tersebut membahas bagaimana menjadi guru dan orang tua yang bijak dalam mendidik anak di rumah maupun di sekolah.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Abdul Gaos menyebutkan dengan terbentuknya Direktorat Pendidikan Pembinaan Pendidikan Keluarga di Kemendikbud akan lebih banyak masukan masukan konten pendidikan keluarga di sekolah dari semua jenjang pendidikan dari mulai PAUD hingga SMP.

”Kalau dulu sudah ada dan sudah dijalankan oleh sekolah. Mungkin sekarang strukturnya

lebih dijelaskan seiring dengan struktur dari Kementerian,” jelas Abdul Gaos yang juga sebagai Ketua Pokja Pendidikan Keluarga pada Disdik Kota Bandung, kemarin.

Disebutkan Gaos, tujuan dari seminar yang mereka selenggarakan untuk memberikan pemahaman ke orang tua dan guru tentang cara mendidik anak. Gaos menyebutkan hal itu merupakan tanggung jawab bersama. ”Jadi tidak serta merta orang tua hanya menyerahkan anak kepada sekolah, lalu lepas tangan. Selama di sekolah yang menjadi tugas utamanya bapak ibu guru di sekolah, tapi orang tua pun tetap memberikan pembinaan di rumah,” jelas dia.

Selain memberikan waktu khusus ke anak di rumah, orang tua juga harus memberikan

perhatian yang lebih kepada anak. Tidak harus ibu tapi semua anggota keluarga yang ada harus turut ikut andil dalam memberikan perhatian kepada anak. ”Artinya tanggung jawab itu berada di keluarga besar,” ungkapnya.

Kegiatan yang diinisiasi Forum Komunikasi Kepala Sekolah ini diharapkan memberikan dampak positif. Sehingga kegiatan kegiatan semacam itu akan lebih banyak, dan dapat disaksikan oleh orang tua, kepala sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK). ”Kita berupaya meningkatkan pendidikan inklusif, literasi, kemudian Bandung Masagi dan digital,” ucapnya.

Landasan empat pilar itu sebut dia, diharapakan dapat membekali anak anak untuk bisa berkembang baik daris egi akademisi, budaya dan agama. ”Dalam pembinaan bapak ibu guru di sekolah ada empat komponen yang harus di sampaikan kepada anak dan orang tua,” tutup dia

 

Sumber :

https://nashatakram.net/