MEMULAI PUASA DENGAN BERNIAT

MEMULAI PUASA DENGAN BERNIAT

  • March 10, 2020

MEMULAI PUASA DENGAN BERNIAT

MEMULAI PUASA DENGAN BERNIAT
MEMULAI PUASA DENGAN BERNIAT

MEMULAI PUASA DENGAN BERNIAT DI MALAM SEBELUMNYA
Dituntunkan dalam Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam untuk orang Islam yang akan berpuasa agar berniat akan menjalankan ibadah puasa pada malam sebelumnya dimana dia akan berpuasa pada esok harinya. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan bahwa Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang tidak berniat berpuasa pada malam harinya, maka tidak sah puasa yang dia lakukan di esok harinya”. HR. Baihaqi dalam Sunannya. Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam Muwattha’nya dengan sanad Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa beliau menyatakan : “Tidak dianggap puasa kecuali yang berniat puasa sebelum terbitnya fajar”. Imam Malik meriwayatkan pula dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari A’isyah dan Hafshah yang keduanya adalah istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang menegaskan sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Umar. Maka dengan sebab itu telah sangat meyakinkan bahwa berniat puasa di bulan Ramadhan adalah merupakan rukun puasa wajib dan niat itu haruslah dikuatkan di hati pada malam harinya sebelum terbit fajar. Sehingga tidak sah puasa orang yang belum sempat berniat di malam harinya. Berikut ini kami nukilkan keterangan para Ulama’ Ahlis Sunnah Wal Jama’ah tentang masalah ini agar kiranya dengan itu akan semakin memantapkan keyakinan kita tentang masalah ini.

Al Imam Ibnu Hazem rahimahullah dalam Al Muhalla jilid ke 4 halaman 285 menyatakan : “Dan tidak sah puasa itu, baik puasa Ramadhan atau yang lainnya, kecuali dengan niat yang diperbaharui setiap malam untuk ibadah puasa hari berikutnya. Maka barangsiapa yang sengaja meninggalkan niat di malam hari, maka puasanya batal”. Selanjutnya Ibnu Hazem menambahkan :

“Dan barangsiapa yang lupa berniat di malam harinya di bulan Ramadhan, maka kapan saja dia ingat di siang harinya dia berniat, sama saja hukumnya apakah dia telah makan dan minum serta behubungan seks dengan istrinya atau belum berbuat apapun, maka dia segera berniat puasa pada waktu dia ingat. Dan kemudian menahan diri dari segala apa yang semestinya orang yang berpuasa menahan diri daripadanya. Dan dengan demikian sahlah puasanya dan tidak ada kewajiban mengqadha’nya (yakni mengagantinya), walaupun hari itu hampir habis (yakni matahari hampir tenggelam) dan tidak ada kesempatan sisa waktu kecuali sekedar cukup untuk berniat semata, maka tetap puasanya sah. Dan bila dalam kondisi demikian, dia tidak juga mau berniat, maka puasanya tidak sah karenanya. Dan orang yang demikian ini bermaksiyat kepada Allah Ta’ala, dan dianggap membatalkan puasanya dan tidak bisa diganti dengan qadha’ ”.

Al Imam An Nawawi rahimahullah menegaskan dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab jilid 6 halaman 305 sebagai berikut : “Dan madzhab kami menyatakan bahwa tidak sah puasa kecuali dengan niat, baik puasa wajib Ramadhan atau puasa wajib yang lainnya , maupun puasa sunnah. Dan telah berpendapat demikian segenap Ulama’ kecuali Atha’ dan Mujahid dan Zufar”.

Al Imam Al Mawardi rahimahullah dalam Al Hawi Al Kabir jilid 3 halaman 243 menegaskan : “Imam Syafi’ie dan segenap Ulama’ ahli fiqih telah berpendapat tentang wajibnya niat puasa Ramadhan”. Kemudian beliau menambahkan : “Karena puasa itu adalah ibadah. Ada yang wajib dan ada yang sunnah. Maka semestinyalah niat itu sebagai syarat sahnya amalan tersebut sebagaimana shalat juga disyaratkan dengan niat untuknya”. Selanjutnya beliau menyempurnakan keterangannya : “Berkata Asy Syafi’ie : Sesungguhnya wajib atas orang yang berpuasa untuk berniat puasa setiap harinya sebelum terbit fajar. Maka kalau dia berniatnya sesudah terbitnya fajar, puasanya tidak sah”.

Al Imam Abul Qasim Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim Ar Rafi’ie Al Qazwaini As Syafi’ie dalam Asy Syarhul Kabir jilid 3 halaman 183 : “Niat itu wajib dalam menjalankan puasa dimana tidak dianggap sah satu amalan kecuali dengan berniat. Dan tempatnya niat itu adalah hati dan tidaklah disyaratkan dalam berniat itu dengan melafadlkannya untuk berpuasa dan ini adalah pendapat yang tidak berselisih padanya para Ulama’ “.

Demikian para Ulama’ Ahlis Sunnah Wal Jama’ah menerangkannya dan mereka semua berdalil dengan hadits riwayat yang tersebut di atas dan menshahihkan riwayat tersebut. Oleh karena itu dituntunkan kepada mereka yang berpuasa Ramadhan dan puasa yang lainnya untuk memantapkan niatnya di dalam hati dan tidak melafadlkannya dengan lesan, di malam hari dimana esoknya dia akan berpuasa. Sehingga dalam puasa Ramadhan, setiap malam dia harus berniat dalam hati bahwa besok dia akan berpuasa untuk beribadah kepada Allah dalam menjalankan perintah Allah dan RasulNya.

Baca Juga :

Wahyudi

E-mail : admin@thailandomania.com