Huawei Janjikan 3 Perangkat Baru di Indonesia

  • December 27, 2019

Huawei Janjikan 3 Perangkat Baru di Indonesia

Huawei Janjikan 3 Perangkat Baru di Indonesia

Huawei baru saja meluncurkan 3 perangkat terbaru di Indonesia

, Senin (25/11).

Bersamaan dengan itu, perusahaan asal Tiongkok ini juga membocorkan 3 perangkat berikutnya. Edy Supartono, Training Director Huawei CBG Indonesia, telah mengkonfirmasi sendiri ketiga perangkat itu.

“Bukan hanya itu, huawei juga berencana untuk mengeluarkan produk-produk lainnya,” ujar Edy.

Adapun perangkat itu adalah, Huawei Watch GT 2 Elegant Edition

dan Elite Edition serta Huawei MateBook X Pro. Kabarnya, Huawei Watch GT 2 42mm Elegant Edition akan menawarkan desain yang menawan. Sedangkan, sesuai dengan konsep ‘Elite’, juga tampil dengan desain elite seperti pada gambar.

Baca juga: Resmi di Indonesia, Intip 3 Perangkat Terbaru Huawei

Sementara itu, MateBook X Pro justru mengalami penundaan perilisan dari sebelumnya.

Pasalnya, Lo Khing Seng, Deputy Country Director Consumer Huawei Business Group Indonesia,

pernah menyebut perangkat ini akan tiba setelah lebaran. Namun, menjelang akhir 2019 Huawei masih belum juga merilisnya.

Kendati demikian tak menutup kemungkinan bagi Huawei untuk segera merilisnya. Hal ini karena masih tersisa beberapa pekan menjelang akhir 2019 ini. Kita tunggu saja kabar ketiga perangkat ini pada kesempatan berikutnya.

 

Sumber :

https://namabayi.co.id/

Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dan Contohnya

  • August 2, 2019

Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dan Contohnya

Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri dari berbagai daerah, masing-masing sebagai subsistem yang meliputi aspek sosial budaya, ekonomi dan fisik, dengan corak ragam yang berbeda antara subsistem yang satu dengan yang lain, dan dengan daya dukung lingkungan yang berlainan. Pembinaan dan pengembangan yang didasarkan pada keadaan daya dukung lingkungan akan meningkatkan keselarasan dan keseimbangan subsistem yang juga berarti meningkatkan ketahanan subsistem.
Menurut Emil Salim, secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi, keadaan, dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati, dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Sedangkan Soedjono mengartikan lingkungan hidup sebagai lingkungan hidup fisik atau jasmani yang mencakup dan meliputi semua unsur dan faktor fisik jasmaniah yang terdapat dalam alam.
Pengertian pembangunan berwawasan lingkungan menurut Pasal 1 butir 13 Undang-Undang No.23 Tahun 1997 adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup.
Mengacu pada The World Commission on Environmental and Development menyatakan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan adalah proses pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi masa sekarang tanpa mengesampingkan atau mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Selanjutnya Holdren dan Erlich dalam Zul Endria(2003) menyebutkan tentang pembangunan berkelanjutan dengan terpeliharanya Total Natural Capital Stock pada tingkat yang sama atau kalau bisa lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan sekarang.

Pembangunan berkelanjutan yang dikonsep oleh Stren

While, dan Whitney sebagai suatu interaksi antara tiga sistem: sistem biologis dan sumberdaya, sistem ekonomi, dan sistem sosial, yang dikenal dengan konsep trilogi keberlanjutan: ekologi-ekonomi-sosial. Konsep keberlanjutan tersebut menjadi semakin sulit dilaksanakan terutama di Negara berkembang.
Menurut Hariyadi sebagaimana dikutip oleh Zul Endria (2003), pembangunan berwawasan lingkungan memerlukan tatanan agar sumber daya alam dapat secara berlanjut menunjang pembangunan, pada masa kini dan mendatang, generasi demi generasi dan khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup pemikiran aspek lingkungan hidup sedini mungkin dan pada setiap tahapan pembangunan yang memperhitungkan daya dukung lingkungan dan pembangunan di bawah nilai ambang batas.

Sejak dilaksanakannya Konferensi Stockholm 1972

masalah-masalah lingkungan hidup mendapat perhatian secara luas dari berbagai bangsa. Sebelumnya, sekitar tahun 1950-an masalah-masalah lingkungan hidup hanya mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan. Sejak saat itu berbagai himbauan dilontarkan oleh pakar dari berbagai disiplin ilmu tentang adanya bahaya yang mengancam kehidupan, yang disebabkan oleh pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

Masalah lingkungan pada dasarnya timbul karena:

  • Dinamika penduduk
  • Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana.
  • Kurang terkendalinya pemanfaatan akan ilmu pengetahuan dan teknologi maju.
  • Dampak negatif yang sering timbul dari kemajuan ekonomi yang seharusnya positif.
  • Benturan tata ruang.

Sumber : https://www.ram.co.id/