Bagaimana Semut Menjadi Organisasi Yang Cerdas

  • September 3, 2019

Bagaimana Semut Menjadi Organisasi Yang Cerdas

Bagaimana Semut Menjadi Organisasi Yang Cerdas

Sejak mengenal teori chaos complexity yang merupakan sudut pandang baru bagi manajemen organisasi dan penyusunan strategi perusahaan, saya sampai kepada teori emergence. Kompleksitas yang muncul dari sesuatu yang sederhana.

Emergence ini contohnya adalah semut. Sebagai individu, semut bukan merupakan organisme cerdas. Namun sebagai suatu koloni, semut memiliki sistem organisasi yang sangat cerdas.

Ada kawanan prajurit, ada kawanan pencari makanan, ada kawanan pengajar & pengasuh semut muda, dan ada kawanan pembangun. Ketika salah satu kawanan kekurangan personil, maka semut akan mengorganisasi perubahan job description. Misalnya, ketika kekurangan pencari makan, maka akan ada perubahan fungsi semut dari prajurit menjadi pencari makan. Dalam prosesnya, perubahan job desc ini tidak menimbulkan disrupsi. Selain itu, perubahan job desc ini akan membuat jumlah semut di tiap kawanan akan seimbang. Keseimbangan ini terjadi dengan sendirinya.

Bagaimana emergence bisa terjadi merupakan suatu misteri alam semesta.

Di tataran yang lebih kecil dari semut, ada sel. Sel membentuk tubuh kita. Sel mengolah energi dan membuat kita hidup dan berkembang. Sel bekerja dengan sendirinya. Kita tidak bisa mengatur pertumbuhan kita sendiri, misalnya menumbuhkan rambut atau membuat kita kembali muda. Setiap detik jutaan sel mati dan digantikan dengan sel baru. Semua terjadi dengan sendirinya.

Sel berkelompok membentuk kita. Kita berkelompok membentuk organisasi, organisasi berkelompok membentuk negara. Bagaimana semua itu terjadi merupakan suatu misteri. Bisa jadi, ini salah satu prinsip di alam semesta.

Jika dipikirkan secara mendalam, semua yang terjadi di alam semesta ini di luar kendali kita. Berdasar teori chaos dan teori complexity. Kita sebenarnya tidak bisa mengendalikan apapun. Itulah yang membuat teori dalam bisnis dan manajemen tidak bisa direplikasi dengan hasil sama.

Selalu ada kompleksitas dan konteks yang menaungi kompleksitas pada saat terjadinya. Misalnya, metode yang digunakan di toyota pada saat kesuksesannya di tahun 2000an tidak bisa direplikasi dengan hasil sama persis di perusahaan lain.

Hal inilah yang membuat manajemen dan bisnis modern menggunakan chaos dan complexitysebagai landasan. Sebagai contoh, long term strategic planning bergeser dari pola forecasting atau predicting the numbers menjadi scenario planning untuk menciptakan kesadaran strategik dan resiliency alih-alih menjadi panduan/arahan strategik. Contoh lain munculnya kombinasi antara deliberate dan emergence strategy (akan dibahas di tulisan yang lain).

Contoh lain dari penerapan teori chaos dan complexity adalah perubahan pola organisasi dari kendali menjadi belajar. Untuk menghadapi perubahan dan kompleksitas, organisasi harus menjadi organisasi pembelajar (pernah saya tulis di tulisan sebelum ini). Kendali tidak akan membuat organisasi menjadi lebih baik. Namun belajar bisa membuat organisasi menjadi lebih baik. Lagipula, seperti yang telah saya tulis sebelumnya, kita harus selalu belajar. Diawali dari kemauan untuk mengakui kesalahan, menerima kesalahan, menganalisa, dan berubah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sayangnya, pola organisasi di Indonesia masih banyak yang menggunakan pola manajemen kuno. Chaos complexity belum dipahami. Belajar belum menjadi bagian dari organisasi dan manajemen.

Anehnya, Indonesia merupakan bangsa yang religius dan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Seharusnya, manajemen di Indonesia yang paling memahami teori kompleksitas.

Tetapi, kesalahan masih menjadi hal yang tabu di negeri ini, bahkan dianggap suatu kebodohan yang memalukan, sehingga sebisa mungkin harus ditutupi jika tidak ingin menjadi bahan ejekan atau amarah.

Belum lagi manajemen masih berusaha mengendalikan anak buah dan hasil dari kinerja organisasi selama masa manajerialnya. Kegiatan predicting the numbers untuk jangka waktu sepanjang 5-10 tahun juga merupakan hal yang biasa di Indonesia. Padahal, hasil dari forecasttersebut jauh dari kata bermanfaat atau mendekati kenyataan.

Alam semesta diciptakan sangat luar biasa oleh Tuhan. Kekacauan yang sangat rumit untuk kita pahami, dengan sendirinya menimbulkan keberaturan dan keseimbangan.

Kompleksitas muncul dari sesuatu yang sangat sederhana.

Dengan memahami emergence, organisasi tidak perlu dikendalikan menggunakan ego. Semua akan terjadi secara teratur dan seimbang. Setiap bagian dari organisasi, mulai dari sel tubuh hingga individu, hanya perlu menjalankan fungsinya sesuai yang sudah diatur dalam tatanan alam semesta. Semut prajurit hanya perlu menjalankan fungsinya, membunuh predator dan melindungi koloni. Tugas itu hanya perlu dijalani sesuai peran yang dibuat untuknya. Tanpa ego.

Mungkin ini sejalan dengan konsep dharma, juga ungkapan jawa kuno “lakonono lelakonmu“, atau jalanilah peranmu. Apapun itu, jadi predator atau jadi mangsa, jadi ratu atau jadi pekerja, bahkan sel yang terkecil saja menjalankan tugasnya. Apalagi manusia.

Organisasi, dan semua individu sebagai tataran terkecilnya harus menjalankan fungsinya, peranan yang sudah diatur dalam kompleksitas alam semesta.

Salah-Benar-Gagal-Berhasil hanya bagian dari kekacauan dan kompleksitas. Di dalamnya, kita hanya harus terus belajar, belajar dan belajar.

Sumber : https://jalantikus.app/

Wahyudi

E-mail : admin@thailandomania.com